kurniawangunadi

Tulisan : Tentang Kesedihan

Sebagai manusia, kita mengalami banyak sekali perasaan di dunia ini. Perasaan khawatir, cemas, bahagia, kehilangan, bahagia, sedih, cinta, dan lain sebagainya. Hari ini saya belajar tentang kesedihan. Mencoba memahami bahwa sebenarnya perasaan yang kita sangka buruk (sedih, kehilangan, dsb) adalah sebuah nikmat yang diberikan oleh-Nya. Karena dalam kesedihan manusia menjadi lebih dekat kepada Tuhannya.

Kebahagiaan membuat manusia lebih sering lupa meski mulut mengucap syukur. Kebagiaan membuat kita lebih sering jauh karena seluruh pikiran kita sedang terpusat pada kebagiaan itu. Kebahagiaan dari pertemuan, kebersamaan, dan lain-lain sering membuat kita lalai dalam beribadah. Mengulur-ulur waktu demi waktu kebersamaan yang tidak ingin terbuang meski sekadar melungankan beberapa menit untuk ibadah  dan lain-lain.

Hari ini kita akan memaknai kesedihan sebagai sebuah nikmat yang luar biasa dari Tuhan. Bagaimana sebuah rasa sedih membuat kita menjadi seorang hamba yang benar-benar mau dan berusaha mendekat. Menyandarkan beban-beban hidup kita kepada-Nya. Meminta pertolongan dan mohon ampun. Ketika perasaan sedih atas kekhawatiran kita terhadap sesuatu, bahkan terhadap diri kita sendiri membuat kita bersujud lebih lama dari biasanya. Bagaimana kesedihan mampu membuat kita meneteskan air mata ketika memohon pertolongan-Nya.

Mulai hari ini, kita akan memaknai kesedihan sebagai sebuah perasaan yang istimewa. Kesedihan tidak lagi sebagai sebuah perasaan negatif yang seolah-olah membuat hidup kita hancur berantakan, membuat harapan kita hancur menjadi kepingan. Mulai hari ini, kita akan melihat sesuatu dari sudut pandang yang baru. Berbahagia ketika mengalami kesedihan. Karena perasaan itu mendekatkan kita kepada Tuhan.

Rumah, 6 Agustus 2014 | (c)kurniawangunadi

kurniawangunadi

Ramadhan #19 : Harus Mengalami

kurniawangunadi:

Tulisan ini adalah tulisan ramadhan 19/30 yang tertunda karena penulisnya difokuskan pada pekerjaan lain. Semoga tetap bermanfaat.

Hati kita kadang harus terluka. Agar kita tahu bagaimana rasanya dikhianati. Agar kita tidak mengkhianati. Hidup kita kadang harus hancur. Agar kita tahu bagaimana rasanya dicaci. Agar kita tidak ikut mencaci. Pikiran kita kadang harus jenuh. Agar kita tahu bagaimana rasanya dijauhi. Agar kita tidak menjauhi.

Seluruh cerita hidup kita kadang harus acak-acakan, harus banyak lubang, terluka di sana-sini. Agar kita tahu bagaimana rasanya dibenci, ditinggalkan, ditipu, diolok-olok, diasingkan, dibiarkan. Agar kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang merusak cerita hidup orang lain.

Seluruh cinta kita kadang harus hancur berantakan. Agar kita tahu bagaimana rasanya tidak berbalas, tahu bagaimana rasanya khawatir, menunggu, ditunggu, diburu waktu, dikhianati, bertepuk sebelah tangan, berharap, bersatu. Agar cinta kita menjadi lebih bijaksana, tidak gegabah dalam mengambil keputusannya.

Hidup kita kadang harus seperti itu. Hanya agar kita tahu bagaimana rasanya. Agar kita belajar dan menjadi lebih bijaksana.


Rumah, 23 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi

“put in other’s shoes”