kuntawiaji

Diet, Apakah Masih Perlu?

kuntawiaji:

Sekitar satu tahun yang lalu, muncul fenomena diet OCD. Banyak orang berbondong-bondong menjadi kaum OCD dan berharap untuk memiliki berat badan yang ideal. Ada yang mengklaim berhasil, tetapi banyak juga yang gagal. Obesitas dan overweight semakin menjadi masalah bagi banyak manusia modern dalam satu dekade ini. Tahun 2010, dalam laporannya, World Health Organization (WHO) menuliskan bahwa lebih banyak orang di seluruh dunia meninggal dengan overweight dan obesitas dibandingkan akibat underweight. Beragam cara diet sudah dicoba oleh banyak orang selama berpuluh-puluh tahun, tetapi belum ditemukan satu cara diet yang memuaskan semua orang. Semakin mereka berusaha keras untuk diet, justru seringkali semakin banyak kenaikan berat badan yang terjadi.

Ada hal esensial mengenai diet dan pola makan yang tidak dipahami oleh para pelaku diet. Manusia sebagai rangkaian dari sistem-sistem organ memiliki berat badan yang sangat bergantung dari seberapa banyak energi yang ia dapatkan dari makanan dikurangi dengan seberapa banyak energi yang terpakai. Dan hasil akhir dari berat badan seseorang tidak hanya melibatkan proses dari sistem pencernaan saja, ada sistem endokrin (hormonal) yang juga ikut terlibat. Lapar dan kenyang diatur oleh hipotalamus di otak, tanpa kita sadari, dengan bergantung pada empat hormon pencernaan, yaitu ghrelin, leptin, PYY, dan insulin. Ghrelin bekerja memberikan sinyal lapar dari dinding lambung. Kadarnya akan sangat meningkat ketika seseorang kehilangan berat badan, misalnya saat melakukan diet. Insulin pankreas berkontribusi menekan nafsu makan ketika kadar gula darah meningkat setelah makan. Leptin diproduksi oleh jaringan lemak yang juga berkontribusi dalam pengaturan nafsu makan, bergantung pada jumlah deposit lemak di dalam tubuh. PYY disekresi setelah makan oleh usus halus yang berfungsi menekan nafsu makan.

 image

Seperti halnya suhu tubuh yang selalu diatur agar berada di kisaran 37 derajat celcius, tubuh kita menetapkan kisaran berat badan (set point) yang tetap. Ketika seseorang melakukan diet dan tubuhnya kekurangan berat badan beberapa kilogram, maka sistem hormonal akan bekerja untuk memaksa berat badan kembali ke keadaan semula. Hal ini terjadi karena ketika kita berada dalam kondisi kekurangan berat badan akibat diet, tubuh kita akan berpikir bahwa kita berada dalam kondisi kelaparan. Tubuh kita tidak mengenal bahwa kita sedang dalam kondisi overweight dan membutuhkan penurunan berat badan. Yang tubuh kita tahu hanyalah berat badan kita telah berada di luar set point yang telah ditetapkan. Dampaknya, kita akan merasa sangat lapar dan proses metabolisme di dalam tubuh ditekan, dengan kata lain, jumlah energi yang terbakar menjadi sangat sedikit.

Set point berat badan seseorang yang ditetapkan oleh hipotalamus ini dapat berubah nilainya, tetapi sayangnya kisaran itu sulit untuk berubah ke nilai yang lebih rendah, melainkan cenderung ke nilai yang lebih tinggi. Ketika seseorang berhasil mempertahankan dietnya selama sebulan dan menurunkan berat badannya hingga 5 kg, misalnya, tidak serta merta membuat set point berat badannya berubah ke nilai yang lebih rendah, tetapi tetap sama seperti semula. Sehingga dalam jangka panjang, jika ia tidak konsisten dalam dietnya, berat badannya sangat mungkin untuk kembali seperti semula. Dalam sebuah studi tahun 2007 didapatkan mereka yang melakukan diet, dalam jangka 5 tahun ke depan, sebagian besar akan kembali ke berat badan semula, bahkan 40% akan memiliki berat badan yang lebih besar. Hanya sebagian kecil saja yang berhasil menurunkan set point berat badannya. Apalagi di era saat ini di mana makanan sangat mudah tersedia hanya dengan menekan tombol. 14045, 14022, 500-600, 500-505, 5655007, 500-366, 5000-25 (ya, saya hafal semuanya) adalah kemudahan yang ditawarkan industri modern untuk meningkatkan set point berat badan kita dan secara tidak langsung, membunuh kita pelan-pelan.

Set point berat badan lebih cenderung untuk meningkat dibandingkan menurun. Kenaikan berat badan sementara dalam jangka panjang akan membuat tubuh kita berpikir bahwa set point berat badan kita memiliki nilai normal yang baru. Dampaknya, tubuh kita akan nyaman dengan angka timbangan yang lebih tinggi dan membuat kita semakin sulit untuk melakukan usaha penurunan berat badan. Dokter Yoni Freedhoff dari Universitas Ottawa, New Zealand, mengatakan, “If we had a time machine, it would be the world’s best weight-loss program.” Ada yang salah dengan pola hidup (terutama, pola makan) kita di masa sekarang.

Apakah menurunkan berat badan bagi seseorang dengan overweight dan obesitas memang benar-benar diperlukan? Sebuah studi mengenai risiko kematian atas perilaku hidup sehat menjawab pertanyaan ini. Dalam studi ini, subjek penelitian dibagi menjadi tiga, mereka yang memiliki berat badan normal, mereka yang overweight, dan mereka yang obesitas. Sedangkan perilaku hidup sehat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah memakan cukup buah/sayuran, olahraga minimal 3 kali seminggu, tidak merokok, dan tidak minum alkohol berlebihan. Hasil studi dapat dilihat dalam grafik berikut:

image

Angka 0: tidak menjalankan pola hidup sehat, angka 1: menjalankan satu jenis pola hidup sehat, dan seterusnya. Mereka yang memiliki masalah berat badan, secara umum memang memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki berat badan normal. Tetapi coba bandingkan ketiganya ketika mereka menjalankan seluruh pola hidup sehat (nomor 4 di masing-masing grafik). Risiko kematian di ketiga kelompok sama-sama rendah dan tidak ada perbedaan yang signifikan di antara ketiga kelompok. Dapat disimpulkan bahwa usaha untuk hidup sehat jauh lebih penting dibandingkan usaha untuk tampil dengan berat badan ideal. Pemikiran ini lah yang sangat sulit untuk ditanamkan kepada banyak orang di era industri media/iklan, kosmetik, dan fashion yang kita jalani sekarang ini.

Melihat fakta ini, pendekatan untuk menurunkan berat badan dengan diet sudah sepantasnya diganti dengan usaha pencegahan kenaikan berat badan. Di dunia barat, pendekatan ini sudah dimulai dengan istilah mindful eating, yaitu usaha memahami sinyal tubuh untuk makan ketika lapar dan berhenti makan ketika kenyang. Pendekatan ini dalam Islam bukanlah hal yang baru mengingat ada hadits yang meriwayatkan hal yang serupa. Pendekatan ini digunakan, selain karena lapar dan kenyang yang merupakan sinyal terbaik tubuh untuk mengetahui kebutuhan nyata makanan bagi tubuh kita, juga bahwa kenaikan berat badan lebih sering terjadi akibat kita makan di saat tubuh tidak lapar (misalnya mengemil, makan popcorn dan soda saat menonton bioskop, atau makan-makan sosial saat berkumpul bersama teman-teman). Satu kasus yang pernah saya dapatkan, seorang pasien saya dengan obesitas mengaku dia jarang makan, tetapi lebih sering mengemil. Mengemil nugget dan pisang goreng.

Pada akhirnya setiap orang berhak untuk berbahagia dan memiliki hidup sehat, berapapun berat badannya. Menurunkan berat badan bukanlah solusi utama. Pola hidup yang sehat dan usaha mempertahankan berat badan yang ada saat ini jauh lebih baik dari cara diet apapun yang pernah ada.

Mindful eating !

What happened in Taiwan?

image

Ini adalah demonstrasi terbesar yang pernah dilakukan rakyat Taiwan untuk memprotes kebijakan pemerintahnya — bekerjasama dengan China.

image

Mereka menyebutnya “Sunflower Movement 太陽花學運 (Tàiyáng huā xué yùn)

Well, here is the video of the glance over the recent phenomenon in here:  

Dari mengambil alih gedung parlemen hingga menginap di jalanan. Mereka melakukannya dengan sangat tertib. Ada cerita, saya punya labmates yang termasuk seorang aktivis. Minggu kemarin, dia bahkan ikut tidur semalaman didepan gedung pemerintahan. Pagi hingga sesiangan dia berorasi di jalan. Eh, sorenya tiba-tiba dia muncul di lab lari-lari sambil keburu-buru ngeluarin laptop. “What happened?” | “Have a meeting. giving my progress report” | “whatt?! with laoshi?” | “who else? sambil ngasih mimik muka aneh” :’OOOOO jaw drop. Ternyata mereka juga masih melaksanakan aktivitas akademiknya dengan teramat baikk. Ini yang bikin salut dan ngejleb pake banget. Kalo risetmu apakabar, nak? 

Anyway, I pray the best for you, Taiwan.
台灣 加油!! Taiwan jiayou!